makalah Hubungan komunikasi



HUBUNGAN KOMUNIKASI




Makalah ini diajukan untuk Memenuhi salah satu Tugas pada Mata Kuliah Komunikasi Bisnis Semester VII Kelompok 1 Program Studi Ekonomi Syariah Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Watampone.

Oleh:
Kelompok 3

SUSANTI
NIM. 01123020

VERAWANTI
NIM.01123016




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
2015
 







KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, merupakan kata yang pantas dan senantiasa kita ucapkan setiap saat, karena berkat inayah dan rahmat-Nyalah sehingga apa yang kita lakukan setiap waktu senantiasa bermanfaat dan bernilai ibadah disisi-Nya. Begitupun shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada baginda utusan Allah Muhammad saw sebagai nabi pelopor kebenaran dan pembawa cahaya dan penyempurna akhlak umat manusia.
Selesainya makalah ini merupakan usaha dari penulis, dan bantuan rekan-rekan tentunya. Dalam makalah ini penulis mengangkat tentang “ Hubungan Komunikasi”
Semoga dengan hadirnya makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan kita, serta semoga kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini dapat kita benahi bersama, demi tercapainya tujuan yang kita harapkan bersama.


Watampone, 27 Oktober 2015

                                                                      Penulis



DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR                                                                                  i
DAFTAR ISI                                                                                              ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                                           1
B.     Rumusan dan Batasan Masalah                                                                  2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pola Intraksi Hubungan                                                                              3
B.     Skema Hubungan Keluarga                                                                        4
C.     Teori Penetrasi Sosial                                                                                 7
D.    Mengelola Perbedaan                                                                                 9
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan                                                                                                
DAFTAR PUSTAKA                                                                                  13


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagai mahluk sosial, manusia dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan hubungan dengan manusia yang lain. Hubungan tersebut terjadi karena manusia saling membutuhkan untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Karena manusia tidak bisa lepas dari manusia lainnya dan tidak bisa melakukan seorang diri. Kecenderungan manusia berhubungan melahirkan komunikasi dengan manusia yang lainnya. Komunikasi terjadi karena saling membutuhkan melalui sebuah interaksi.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tidak dapat dilepaskan dari dunia komunikasi, mulai dari bangun tidur hingga akan tidur kembali. Sebelum berangkat kerja atau sekolah, berbagai kegiatan komunikasi mereka lakukan,seperti mendengarkan radio atau musikdalam format CD atau DVD, menonton acara televisi, dan bercengkrama dengan anggota keluarga.
Komunikasi dalam dunia bisnis merupakan salah satu faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. Akan tetapi orang seringkali mengabaikan arti pentingnya komunikasi. Hubungan komunikasi yang terjalin baik antar manajer yang satu denagn manajer yang lain, antar manajer dengan karyawan, atau antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain, merupakan salah satu kunci keberhasilan manajer dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Keberhasilan komunikasi dalam suatu organisasi merupakan aset penting bagi pencapaian sasaran atau tujuan organisasi tersebut. Keberhasilan komunikasi yang tercermin dalam efektivitas dan efisiensinya merupakan alat perekat organisasi, yang juga mempengaruhi nama baik (goodwill) organisasi yang bersangkutan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka makalah ini akan membahas tentang:
A.    Bagaimanakah pola intraksi hubungan komunikasi?
B.     Bagaimanakah skema hubungan keluarga ?
C.     Bagaimanakah teori dari penetrasi sosial ?
D.    Bagaimanakah mengelola perbedaan dalam hubungan komunikasi?













BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Intraksi Hubungan
Dalam kamus bahasa Indonesia, pola artinya adalah “gambar, corak, model, sistem, cara kerja, bentuk, dan struktur”. Sedangkan interaksi artinya hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, memengaruhi, dan antar hubungan. Apabila kata tersebut dikaitkan dengan interaksi maka dapat diartikan pola interaksi adalah bentuk dasar cara komunikasi individu dengan individu atau individu dengan kelompok atau kelompok dengan individu dengan memberikan timbal balik antara pihak satu dengan yang lain dengan maksud atau hal-hal tertentu guna mencapai tujuan.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.
Ada beberapa pengertian interaksi sosial yang ada di lingkungan masyarakat, di antaranya, Menurut H. Booner dalam bukunya, Sosial Psychology, memberikan rumusan interaksi sosial, bahwa: “interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu lain atau sebaliknya.” Menurut Gillin and Gillin yang menyatakan bahwa “ interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual. Antarkelompok orang, dan orang perorang dengan kelompok.”[1]
Sedangkan definisi hubungan secara garis besar adalah Interaksi antar individu atau kelompok demi mencapai suatu tujuan. Namun, menurut kamus Longman pengertian hubungan (relationship) adalah "the way in which two people or two groups feel about each other and behave towards each other" ( cara dua orang atau dua kelompok merasakan satu dengan lainnya dan cara mereka bertingkah laku satu dengan lainnya.)[2]
B. Skema Hubungan Keluarga
Suatu skema adalah seperangkat ingatan yang terorganisasi yang akan digunakan setiap saat seseorang berinteraksi dengan orang lain. karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda, maka skemanya juga akan berbeda. Skema hubungan dikelompokkan ke dalam sejumlah level tau tingkatan mulai dari umum hingga khusus yang mencakup pengetahuan mengenai hubungan sosial pada umumnya, pengetahuan mengenai tipe-tipe hubungan dan pengetahuan mengenai hubungan khusus.
Dengan demikian skema keluarga mencakup tiga hal, yaitu :
a.    Apa yang diketahui seseorang mengenai hubungan secara umum.
b.    Apa yang diketahuinya mengenai hubungan keluarga sebagai suatu tipe.
c.    Apa yang diketahui mengenai hubungan dengan anggota keluarga lainnya.
Menurut Fitzpatrick dan koleganya, komunikasi keluarga tidak terjadi secara acak tetapi sangat berpola berdasarkan pada skema skema tertantu yang menentukan bagaimana anggota keluarga saling berkomunikasi.
Skema-skema ini terdiri atas pengetahuan tentang:
Ø Seberapa dekat pengetahuan tersebut.
Ø Tingkat individualism dalam keluarga
Ø Faktor-factor ekternal terhadap keluarga, misalnya teman, jarak geografis, pekerjaan dan masalah-masalah lain diluar keluarga.
Sebuah skema keluarga akan mencakup bentuk orientasi atau komunikasi tertantu. Ada dua tipa yang menonjol pertama adalah orientasi percakapan (conversation orientation) kedua orientasi kesesuain (conformity orientation). Kedua merupakan variable sehingga tiap keluarga berbeda dalam jumlah percakapan yang dicakup oleh skema keluarga tersebut. Keluarga yang memiliki skema percakapan yang tinggi,senang berbicara,sebaliknya keluarga dengan skema percakapn yang rendah jarang berbicara.Keluarga dengan skema kesesuian yang tiggi dapat berjalan berdampingan dengan kepemimpinan kelurag orang tua,sedangkan kelurag dengan skema kesesuian yang rendah cenderung lebih bersifat individualisme.
Beragam skema akan menciptakan tipe-tipe keluarga yang berbeda. Fitzpatrick dan koleganya telah mengenali empat tipe keluarga:
·      Tipe keluarga konsensual (percakapan-kepatuhan selalu bersifat positif dan tidak ditolak). Tipe keluarga ini memiliki tingkat percakapan dan kesesuain yang tinggi. Keluarga konsensual sering berbicara tetapi kepemimpin keluarga biasanya salah satu orang tua membuat keputusan. Keluarga ini mengalami tekanan dalam berkomunikasi terbuka, sementara mereka juga menginginkan kekuasaan orang tua yang jelas. Para orang tua biasanya menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya, tetapi mengambil keputusan dan menjelaskan kepada anak anaknya sebagai usaha membantu mereka memahami pemikiran dibalik keputusan tersebut.
·      Tipe keluarga pluralitas (percakapan-kepatuhan tetapi tidak ada kepatuhan). Tipe keluarga ini tinggi dalam percakapan tetapi rendah dalam kesesuain,disini anda akan memiliki kebebasan berbicara tetapi akhirnya setiap oramng akan membuat keputusan sendiri berdasarkan pada pembicaraan tersebut.
·      Tipe keluarga protektif (percakapan-keptahuan tetapi jarang ngomong). Tipe keluarga ini cenderung rendah dalam percakapan tetapi tinggi dalam kesesuaian akan ada banyak kepatuhan tetapi sedikit berkomunikasi.mereka juga tidak memberikan penjelasan pada anak anak tentang tentang apa yang mereka putuskan.
·      Tipe keluraga laissez-faire atau toleran ( percakapan-kepatuhan tetapi tingkat kepatuhan rendah), Tipe keluarga aini rendah dalam percakapan dan kesesuaian,tidak suka ikut campur dan keterlibatan rendah. Anggota keluargasangat tidak perduli dengan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang lain dan meraka benar benar tidak membuang waktu untuk membicarakannya.[3]
C.  Teori Penetrasi Sosial
Teori Penetrasi sosial merupakan bagian dari teori komunikasi interpersonal yang menggambarkan serta menguraikan hubungan antar dua individu atau lebih berkembang dari asalanya yang dangkal atau tidak intim, menjadi lebih personal atau lebih intim.
Dalam perspektif teori penetrasi sosial, Altman dan Taylor menjelaskan beberapa penjabaran sebagai berikut:
1.    Kita lebih sering dan lebih cepat akrab dalam hal pertukaran pada lapisan terluar dari diri kita. Kita lebih mudah membicarakan atau ngobrol tentang hal-hal yang kurang penting dalam diri kita kepada orang lain, daripada membicarakan tentang hal-hal yang lebih bersifat pribadi dan personal. Semakin ke dalam kita berupaya melakukan penetrasi, maka lapisan kepribadian yang kita hadapi juga akan semakin tebal dan semakin sulit untuk ditembus. Semakin mencoba akrab ke dalam wilayah yang lebih pribadi, maka akan semakin sulit pula.
2.    Keterbukaan-diri (self disclosure) bersifat resiprokal (timbal-balik), terutama pada tahap awal dalam suatu hubungan. Menurut teori ini, pada awal suatu hubungan kedua belah pihak biasanya akan saling antusias untuk membuka diri, dan keterbukaan ini bersifat timbal balik. Akan tetapi semakin dalam atau semakin masuk ke dalam wilayah yang pribadi, biasanya keterbukaan tersebut semakin berjalan lambat, tidak secepat pada tahap awal hubungan mereka. Dan juga semakin tidak bersifat timbal balik.
3.    Penetrasi akan cepat di awal akan tetapi akan semakin berkurang ketika semakin masuk ke dalam lapisan yang makin dalam. Tidak ada istilah “langsung akrab”. Keakraban itu semuanya membutuhkan suatu proses yang panjang. Dan biasanya banyak dalam hubungan interpersonal yang mudah runtuh sebelum mencapai tahapan yang stabil. Pada dasarnya akan ada banyak faktor yang menyebabkan kestabilan suatu hubungan tersebut mudah runtuh, mudah goyah. Akan tetapi jika ternyata mampu untuk melewati tahapan ini, biasanya hubungan tersebut akan lebih stabil, lebih bermakna, dan lebih bertahan lama.
4.    Depenetrasi adalah proses yang bertahap dengan semakin memudar. Maksudnya adalah ketika suatu hubungan tidak berjalan lancar, maka keduanya akan berusaha semakin menjauh. Akan tetapi proses ini tidak bersifat eksplosif atau meledak secara sekaligus, tapi lebih bersifat bertahap. Semuanya bertahap, dan semakin memudar.
Dalam teori penetrasi sosial, kedalaman suatu hubungan adalah penting. Tapi, keluasan ternyata juga sama pentingnya. Maksudnya adalah mungkin dalam beberapa hal tertentu yang bersifat pribadi kita bisa sangat terbuka kepada seseorang yang dekat dengan kita. Akan tetapi bukan berarti juga kita dapat membuka diri dalam hal pribadi yang lainnya. Mungkin kita bisa terbuka dalam urusan asmara, namun kita tidak dapat terbuka dalam urusan pengalaman di masa lalu atau yang lainnya.[4]
D. Mengelola Perbedaan
Menurut Mikhail Bakhtin teori ini menjelaskan bagaimana suatu hubungan mampu memadukan atau mengintegrasikan berbagai "suara" (istilah Bakhtin) yaitu adanya pandangan yang berbeda-beda dalam suatu hubungan.
Mengelola perbedaan dalam organisasi khususnya di bidang sumber daya manusia tidaklah muda, seorang manajer tentunya membutuhkan vote terhadap para karyawannya apabila karyawan memiliki saran, ide, gagasan yang berbeda dalam mengambil suatu keputusan agar adil. Seorang manajer harus mengenali perbedaan perilaku individu dan masuk dalam pertimbangan ketika mengelola perilaku organisasi, hal ini bertujuan agar seorang manajer mengerti perbedaan individu bawahannya. Budaya yang berbeda akan memicu suatu konflik. Seorang ahli tokoh Aldag, R.J dan Stearn, T.M (1987) mengatakan konflik adalah ketidaksepakatan antara dua atau lebih individu atau kelompok sebagai akibat dari usaha kelompok lainnya yang menganggu pencapaian tujuan.
Agama islam menekankan bahwa perbedaan ialah rahmat. Artinya, melalui perbedaan itulah kita bisa belajar dan memperbaiki diri.menghormati perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak ialah ciri orang yang memahami perbedaan. Sifat inilah yang seharusnya dimiliki oleh para kaumcerdik-pandai atau ulama (ilmuwan). Dimana letak pemerintah dalam mengelola perbedaan? Ada beberapa hal yang sebaiknya dipahami dan dilakukan pemerintah antara lain:
1.      Memahami bahwa keseragaman mutlak itu mustahil,
2.      Tidak terombang-ambing oleh riak perbedaan,
3.      Mengambil titik temu dari berbagai perbedaan.



BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Jadi hubungan komunikasi sangat penting kedudukannya dalam melakukan interaksi terhadap sesama.
Dalam skema hubungan keluarga, terdapat emapat tipe keluarga yaitu:
1.    Tipe keluarga konsensual (percakapan-kepatuhan selalu bersifat positif dan tidak ditolak).
2.    Tipe keluarga pluralitas (percakapan-kepatuhan tetapi tidak ada kepatuhan)
3.    Tipe keluarga protektif (percakapan-keptahuan tetapi jarang ngomong).
4.    Tipe keluraga laissez-faire atau toleran ( percakapan-kepatuhan tetapi tingkat kepatuhan rendah).


DAFTAR PUSTAKA

Elly M, Setiadi, , dkk. Ilmu sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup. 2007

Purwanto, Djoko, Komunikasi Bisnis, Jakarta : Erlangga



https://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/29/teori-penetrasi-sosial/



[1] Setiadi,Elly M, dkk. Ilmu sosial dan Budaya Dasar. (Jakarta : Kencana Prenada Media Grup. 2007) h. 90-91

[3] http://asuarmanhadi.blogspot.co.id/

[4] https://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/29/teori-penetrasi-sosial/

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer