Peran Analisis Kredit Terhadap Evektivitas Pemberian Kredit Pada PT. Adira Finance Cab. Bone
PERAN ANALISIS KREDIT TERHADAP EVEKTIVITAS PEMBERIAN
KREDIT PADA PT. ADIRA FINANCE CABANG BONE
PROPOSAL
PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Manajemen Keuangan Kelompok 1 Semester 5 Program Studi Ekonomi
Syariah Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Watampone.
Oleh:
SUSANTI
NIM:01123020
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
2015
ABSTRAK
Penelitian dengan judul “Peran Analisis Kredit
Terhadap Efektivitas Pemberian Kredit pada PT. Adira Cab. Bone” memiliki tujuan
adalah
untuk mengetahui bagaimana peran analisis kredit terhadap efektivitas pemberian
kredit pada PT. Adira Cabang Bone
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode
penelitian kualitatif, yaitu dengan penelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada
kondisi objek yang alamiyah. Dengan tujuan untuk memehami suatu fenomena dalam
konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi
yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi, wawancara, dan penelitian kepustakaan.
Hasil
penelitiannya menjelaskan tentang gambaran umum PT. Adira Cab. Bone, analisis
kredit yang digunakan oleh PT.Adira, kebijakan yang dilakukan PT.Adira dalam
memberikan kredit dan efektivitas pemberian kredit.
Kata
kunci: peran analisis kredit dan efektivitas pemberian kredit.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, merupakan kata yang pantas dan
senantiasa kita ucapkan setiap saat karena berkat inayah dan rahmat-Nyalah
sehingga apa yang kita lakukan setiap waktu senantiasa bermanfaat dan bernilai
ibadah disisi-Nya. Begitupun shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada
baginda utusan Allah Muhammad SAW sebagai nabi pelopor kebenaran dan pembawa
cahaya dan penyempurna akhlak umat manusia.
Selesainya tugas ini merupakan usaha dari
penulis, dan bantuan rekan-rekan tentunya. Dalam penelitian ini penulis
mengangkat Tentang “ Peran Analisis Kredit Terhadap Efektivitas Pemberian
Kredit pada PT. Adira Cabang Bone ”
Semoga dengan hadirnya tulisan ini dapat
menambah khasanah pengetahuan kita, serta semoga kekurangan-kekurangan yang ada
dalam tulisan ini dapat kita benahi bersama, demi tercapainya tujuan yang kita
harapkan bersama.
Watampone,
16 Januari 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN
SAMPUL i
ABSTRAK ii
KATA
PENGANTAR iii
DAFTAR
ISI iv
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penelitian 3
D. Kegunaan Penelitian 3
BAB
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kredit 4
B. Kebijaksanaan Kredit 6
C. Analisis Kredit 8
BAB
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 15
B. Pendekatan Penelitian 15
C. Teknik Pengumpulan Data 16
D. Teknik Analisis Data 16
BAB
IV. HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum PT. Adira Cabang Bone 17
B. Peran Analisis Kredit terhadap efektivitas kredit
pada PT. Adira 18
Cabang Bone
BAB
V. PENUTUP
A. Simpulan 22
B. Saran 23
DAFTAR
PUSTAKA 24
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Banyak perusahaan bisnis yang melakukan penjualan produk,
baik barang maupun jasa akan mempunyai piutang (Account receivables). Piutang ini terjadi sebagai akibat
kebijaksanaan penjualan barang atau jasa dilakukan dengan cara kredit. Pemberian
kredit kepada nasabah umumnya dilakukan untuk meningkatkan profit perusahaan
sesuai dengan prinsip korporasi , yakni maximazing
profit. Menghadapi era Global dan persaingan bebas dalam dunia ekonomi
sebuah perusahaan diharapkan menghasilkan profit yang optimum dan selalu dalam
kondisi surplus agar kelangsungan usaha tercapai.
Kebijaksanaan Pemerintah dengan mengadakan deregulasi
telah membawa angin segar dalam sektor dunia usaha pada umumnya, adanya
kebijakan – kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah, dunia usaha semakin
mendapat peluang dan kelonggaran untuk mengembangkan diri secara optimal.
Sebagai implementasi dari kebijakan tersebut, telah bermunculan pula perusahaan
– perusahaan baru, baik yang berskala besar, menengah maupun kecil yang semakin
turut meramaikan kegiatan sektor ini.
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
demikian pesatnya, sehingga merupakan peluang bagi setiap perusahaan untuk
dapat meningkatkan produktivitasnya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada
dan sistem manajemen yang baik merupakan produk dari perkembangan dan kemajuan
tersebut.
Pemberian
kredit merupakan kegiatan utama perusahaan yang bergerak dibidang Pembiayaan
yang mengandung risiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan kelangsungan
usaha perusahaan tersebut. Kredit merupakan salah satu cara bagi perusahaan pembiayaan
untuk media penyaluran dana kepada masyarakat. Namun, perusahaan harus memberikan perhatian khusus dalam
pemberian kredit terhadap calon debitur.
Keputusan
pemberian kredit memiliki risiko tinggi atas ketidakmampuan debitur dalam
membayar kewajiban kreditnya pada saat jatuh tempo. Jadi untuk menjaga dan
meminimalisir risiko tersebut dan demi keamanan, perusahaan harus mampu
melakukan penilaian dan pertimbangan yang sangat teliti.
Piutang
perusahaan pada umumnya merupakan bagian terbesar dari aktiva lancer serta
bagian terbesar dari total asset perusahaa.
Akibat jumlahnya yang sangat besar, piutang ini akan dapat mempengaruhi
kebijaksanaan perusahaan, yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan
profitabilitas perusahaan. Untuk itu, perlu dibahas tentang kebijaksanaan
kredit serta pengaruhnya terhadap profit dan biaya, dan kebijaksanaan penagihan
yang akan dilakukan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan
sebelumnya, yang menjadi masalah pokok
penelitian ini adalah bagaimanakah peran analisis kredit terhadap efektivitas
pemberian kredit pada PT. Adira Cab. Bone?
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran analisis kredit terhadap
efektivitas pemberian kredit pada PT. Adira Cabang Bone
D.
Kegunaan
Penelitian
Adapun
manfaat dari hasil penelitian ini yakni berguana bagi peneliti-peneliti
lainnya, dan bagi para praktisi.
1
Bagi peneliti, hasil dari penelitian ini
memperluas wawasan peneliti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan peran
analisis kredit terhadap efektivitas pemberian kredit.
2
Bagi peneliti lain, hasil dari
penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk melakukan penelitian
lebih lanjut.
3
Praktisi, sebagai bahan informasi dan
menjadi bahan masukan bagi manajemen keuangan dalam kaitannya dengan analisis
kredit terhadap efektivitas pembrian kredit.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengertian
Kredit
Istilah kredit berasal dari bahasa
Yunani, Credere yang berarti kepercayaan (Truth atau Faith). Oleh karena itu
dasar dari kredit adalah adanya kepercayaan. Seseorang atau badan usaha yang
memberikan kredit (kreditur) memberikan kepercayaan bahwa penerima kredit
(debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah
disepakati kedua pihak.
Adapun pengertian kredit menurut UU No.
10 1998 tentang perubahan UU No.7 tahun 1992 yaitu, kredit adalah penyediaan
uang atau tagihan-tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam melunasi utang-utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan pemberian bunga”.[1]
Kegiatan perkreditan melibatkan beberapa
pihak, diantaranya adalah bank/lembaga pembiayaan, debitur, otorita atau
pemerintah, dan masyarakat. Tujuan kredit pun berbeda-beda tergantung pada
pihak-pihak tersebut. Tujuan adanya kredit adalah sebagai berikut:[2]
1.
Bagi Lembaga Pembiayaan
-
Kredit merupakan sumber utama
pendapatannya.
-
Pemberian kredit merupakan perangsang
pemasaran produk-produk lainnya dalam persaingan.
-
Perkreditan merupakan instrument penjaga
likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas bank.
-
Perusahaan dapat meningkatkan kemampuan
para karyawannya untuk lebih mengenal kegiatan usaha secara riil di berbagai nstru
ekonomi.
2. Bagi Debitur
-
Kredit berfungsi sebagai sarana untuk
membuat kegiatan usaha makin lancar dan performance (kinerja) usaha semakin
baik daripada sebelumnya.
-
Kredit meningkatkan minat berusaha dan
keuntungan sebagai jaminan kelanjutan kehidupan perusahaan
-
Kredit memperluas kesempatan berusaha
dan bekerja dalam perusahaan.
3.
Bagi Otorita
-
Kredit berfungsi sebagai instrument
moneter.
-
Kredit berfungsi untuk menciptakan
kesempatan berusaha dan kesempatan kerja yang memperluas sumber pendapatan dan
kemungkinan membuka sumber-sumber pendapatan Negara.
-
Kredit berfungsi sebagai instrument
untuk ikut serta meningkatkan mutu manajemen dunia usaha, sehingga terjadi
efisiensi dan mengurangi pemborosan di semua lini.
4.
Bagi
Masyarakat
-
Kredit dapat menimbulkan backward dan
foreward linkage dalam kehidupan perekonomian.
-
Kredit mengurangi pengangguran, karena
membuka peluang berusaha, bekerja, dan pemerataan pendapatan.
-
Kredit meningkatkan fungsi pasar, karena
ada peningkatan daya beli (social buying power)
-
Untuk kelompok masyarakat yang memiliki
keahlian dan profesi tertentu dapat terlibat dalam dalam proses pemberian
kredit, misalnya seorang konsultan proyek dapat turut serta dalam pembuatan
project proposal atau studi kelayakan proyek (project feasibility study). Bagi system akuntansi, bagi notaries
dapat terlibat dalam pembuatan perjanjia kredit dan peningkatan jaminan, bagi
asset appraiser dapat terlibat dalam
penilaian barang yang akan dijaminkan, dan lain sebagainya.[3]
B.
Kebijaksanaan
Kredit
Setiap
perubahann kebijaksanaan kredit yang dilakukan perusahaan merupakan keputusan
yang menyangkut trade-off antara
kenaikan profitabilitas di satu sisi dan risiko di sisi lain. Oleh sebab itu,
beban resiko yang harus ditanggung pelanggan oleh perusahaan yang hendak
memberikan kredit perlu dilandasi dengan pedoman kebijaksanaan. Kebijaksanaan
kredit yang dibuat perusahaan pada umumnya menyangkut masalah kebijaksanaan
pemberian kredit, kebijaksanaan pengawasan kredit, dan kebijaksanaan penagihan
kredit.
Melalui
suatu kebijaksanaan pemberian kredit, dimaksud agar perusahaan memiliki standar
ukuran untuk mengkalsifikasi masing-masing pelanggan yang akan memperoleh
kredit, penentuan jumlah kredit yang diberikan, jangka waktu dan syarat
pembayaran kredit, serta kondisi-kondisi yang harus dipenuhi oleh penerima
kredit.
Kebijaksanaan
pengawasan kredit memberikan pedoman tentang bagaimana penggunaan kredit yang
diberikan kepada pelanggan dan tindakan-tindakan perbaikan apabila pelanggan
tidak melaksanakan ketentuan yang dipersyaratkan dalam pemberian kredit.
Pengawasan
kredit yaitu pengawasan yang dilakukan oleh suatu unit dari dalam bank dan LKNB
lainnya yang dikenal dengan nama satua unit audit. Unit ini diharuskan
keberadaannya dalam perusahaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh bank
Indonesia.[4]
Kebijaksanaan
penagihan memberikan pedoman tentang system pengaihan yang dapat mendorong
pelanggan untuk membayar kembali kreditnya sebagaimana ketentuan yang telah
ditetapkan dan telah disetujui secara bersama-sama.[5] Usaha
pengumpulan kredit/piutang dapat dilakukan dengan cara pengiriman surat,
telepon, melalui agen.[6]
Kebijakan
kredit terdiri atas 4 variabel yaitu:[7]
1. Periode
kredit yakni jangka waktu kredit yang diberikan
2. Standar
kredit yakni merujuk pada kemampuan keuangan minimal yang harus dimiliki calon
penerima kredit serta jumlah kredit yang tersedia bagi masing-masing pelanggan.
3. Kebijakan
pengumpulan yakni merujuk pada prosedur-prosedur yang digunakan oleh perusahaan
untuk menagih piutang yang sudah jatuh tempo.
4. Kebijakan
diskon untuk pembayaran yang dipercepat, termasuk didalamnya jumlah dan periode
diskon.
C.
Analisis
Kredit
Kata analisis adalah memecahkan atau
menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil.[8]
Menurut Thomas Suyatno, dkk
(2003:70) yang dimaksud dengan analisa kredit adalah pekerjaan yang meliputi:
- Mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan penguraian dari segala aspek, baik keuangan maupun non keuangan untuk mengetahui kemungkinan dapat/tidak dapat dipertimbangkan suatu permohonan kredit.
- Menyusun laporan analisis yang diperlukan, yang berisi penguraian dan kesimpulan serta penyajian alternatif-alternatif sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan pimpinan dari permohonan kredit nasabah.
Dari Pengertian tersebut dapat
disimpulkan, pengertian penilaian atau analisis kredit adalah Suatu kegiatan
analisa/penilaian berkas/data dan juga berbagai aspek yang mendukung yang
diajukan oleh pemohon kredit, sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan
apakah permohonan kredit tersebut diterima atau ditolak.[9]
Tujuan utama analisis kredit adalah
untuk menentukan kesanggupan dan kesungguhan seorang peminjam untuk membayar
kembali pinjaman sesuai dengan persyaratan dalam perjanjian kredit. Dalam
pengertian yang lebih luas, analisis kredit merupakan proses menilai risiko
pemberian pinjaman kepada perusahaan atau kepada perorangan.[10]
Dalam pelaksanaan penilaian kredit,
bank dan lembaga keuangan lainnya harus
selalu mempertimbangkan berbagai hal yang terkait, agar kredit yang akan
dipinjamkan dapat memiliki manfaat dan tidak merugikan bank maupun debitur di masa
depan. Menurut Rahadja (1990:10) bank harus selalu mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:
- Keamanan kredit (safety), artinya harus benar-benar diyakini bahwa kredit tersebut dapat dilunasi kembali.
- Terarahnya tujuan penggunaan kredit (suitability), yaitu bahwa kredit akan digunakan untuk tujuan yang sejalan dengan kepentingan masyarakat/sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
- Menguntungkan (profitable), baik bagi bank berupa penghasilan bunga maupun bagi nasabah, yaitu berupa keuntungan dan makin berkembangnya usaha.
Suatu
analisis kredit menggambarkan tentang suatu proses untuk melakukan penilaian
atau evaluasi apakah pelanggan dapat diberikan kredit atau tidak. Pada
hakikatnya, analisis kredit yang dilakukan terhadap calon penerima kredit
adalah analisis kemampuan untuk membayar kembali kredit tersebut. Sedangkan
perusahaan yang akan memberikan kredit sangat berkepentingan dengan kekayaan
nasabah jangka pendek, sebagai jaminan untuk kelancaran pengembalian kredit.
Analisis
kredit penekanannya akan lebih terfokus terhadap risiko likuiditas, rasio
kewajiban dan profitabilitas pelanggan.
Rasio likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan hubungan antara kas perusahaan
dan aktiva lancar lainnya dengan hutang lancar.[11]
Salah satu cara analisis risiko dari pelanggan adalah melalui penggunaan skor
kredit (credit scoring). Credit scoring merupakan suatu cara untuk kemampun
pelanggan dengan member nilai.
Credit
scorring suatu cara yang paling murah dan mudah untuk menilai pemberikan
kredit, khususnya kredit bagi sekelompok pelanggan yang memiliki karakter yag
sama. Sebagai contoh dari penggunaan credit scoring dapat dilihat pada table
berikut ini.
Standar
Kredit untuk BPR Korporasi
|
Nilai
Kredit
|
Keputusan
Korporasi
|
|
Lebih besar dari 80
|
Kredit
diberikan
|
|
60-79
|
Kredit terbatas
dengan tambahan jaminan
|
|
Kurang dari 59
|
Kredit
ditolak
|
Aplikasi
credit scoring bagi seorang pelanggan calon penerima kredit diuraikan pada
tebel berikut ini
Credit
Scoring untuk pemohon kredit
|
Nilai Karakteristik
|
Nilai a
|
Tertimbang
|
Nilai
Akhir
|
|
Income
|
90
|
0,4
|
36
|
|
Jaminan
fidusia
|
90
|
0,3
|
27
|
|
Lama
usaha
|
70
|
0,1
|
7
|
|
Jaminan
kebendaan
|
85
|
0,1
|
8,5
|
|
Referensi
|
70
|
0,1
|
85,5
|
|
Nilai kredit
|
|
|
|
Berdasarkan
table diatas, dapat dilihat credit scorinng pemohon kredit adalah 85,5 melebihi
standar kredit yang ditetapkan BPR korporasi sehingga pemohon kredit dapat
diluluskan untuk diberi fasilitas kredit. Keuntungan menggunakan teknik scoring ini adalah mudah pelaksanaannya
dan biayanya yang relative murah.
Langkah-langkah
dalam analisis kredit, yaitu:
- Pengumpulan
informasi yang mempunyai pengaruh atas evaluasi kredit.
- Analisis
informasi yang dikumpulkan.
- Rekomendasi
keputusan kredit.[12]
Dalam
memutuskan pemberian kredit atau melakukan pencarian dana melalui kredit maka
ada beberapa hal yang harus dipikirkan baik oleh kreditur atau juga debitur
secara umum dan itu sudah menjadi penilaian umum, yaitu yang biasa dikenal
dengan lima C (5C). prinsip 5C yaitu:[13]
a) Character
(Karakteristik), ini menyangkut dengan sisi psikologis calon penerima kredit
itu sendiri, yaitu karakteristik atau sifat yang dimilikinya, seperti latar
belakang, hobi, cara hidup yang dijalani, kebiasaan- kebiasaannya.
b) Capacity
(Kemampuan), adalah menyangkut dengan “business record” atau kemampuan seorang
pebisnis mengelola usahnya , terutama pada masa-masa sulit sehingga nanti akan
terlihat “ability to pay” atau
kemampuan membayar.
c) Capital (Modal),
ini menyangkut dengan kemampuan modal yang dimiliki oleh seseorang pada saat ia
melaksanakan bisnisnya tersebut.
d) Collateral (Jaminan),
adalah barang atau sesuatu yang dapat dijadikan jaminan pada saat seseorang
akan melakukan peminjaman dana dalam bentuk kredit ke sebuah perbankan atau
lembaga keuangan lainnya atau leasing. Untuk jenis ini dapat berupa mulai dari land (tanah), building (bangunan), automotive
(mobil, motor) atau juga pesawat, helicopter juga bisa dijadikan jaminan,
dan juga barang lainnya yang kira-kira dapat disetujui oleh pihak analisis
kredit.
e) Condition of economy (kondisi
perekonomian), kondisi perekonomian yang telah berlangsung disuatu Negara
seperti tingkat pertumbuhan ekonomi yang tengah terjadi, angka inflasi, jumlah
pengangguran, purchasing power parity (daya
beli) penerapan kebijakan moneter sekarang dan yang akan dating, dan iklim usaha
yaitu regulasi pemerintah, serta situasi nekonomi internasional yang tengah
berkembang adalah bagian penting untuk dianalisa dan dijadikan bahan
pertimbangan .
Adapun
alat analisis yang digunakan selain analisis 5C, yaitu dengan studi kelayakan.[14]
a) Penilaian
aspek hukum, yaitu penilaian yang ditujukan untuk menilai kelengkapan dari
surat-surat atau dokumen yang dimiliki seperti izin-izin usaha, atau dokumen
pendukung lainnya.
b) Penilaian
aspek pasar dan pemasaran, yaitu dilakukan untuk menilai prospek pasar yang
akan dimasuki, seperti ada tidak pasar yang akan dimasuki, kemudian seberapa
pasar dan peluang pasar yang ada.
c) Penilaian
aspek keuangan, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sumber-sumber dana yang
akan diperoleh untuk membiayai usaha, kemudian bagaimana kebutuhan biaya
investasi secara rinci.
d) Penilaian
aspek teknis/operasi, dikaitkan dengan penentuan lokasi usaha, tata letak
(layout), teknologi yang digunakan dan metode sediaan perusahaan.
e) Penilaian
aspek ekonomi social, untuk suatu usaha tertentu, terutama usaha dalam skala
besar, sangat penting untuk dinilai . misalnya berkaitan dampak ekonomi dan
social yang diberikan dengan usaha yang dibiayai.
f) Aspek
organisasi dan manajemen, merupakan aspek untukmenilai organisasi perusahaan
seperti struktur organisasi yang dimiliki.
g) Penilaian
aspek amdal, aspek yang dinilai dalam aspek amdal adalah dampak usaha yang akan
dijalankan terhadap lingkungannya.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang dugunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian
yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada
kondisi objek yang alamiyah. Dengan tujuan untuk memehami suatu fenomena dalam
konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi
yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.
B.
Pendekatan
penelitian
Pendekatan
penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptip kualitatif, artinya
penelitian yang berusaha mendeskripsi dan menginterprestasi kondisi atau
hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung,
akibat yang sedang terjadi atau kecendrungan yang tengah berkembang.
Pendekatan
kualitatif dianggap sesuai dalam penelitian ini karena peneliti mempunyai
alasan yaitu, lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan. Sudjana
mengatakan “ tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan hasil”.
Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang tepat digunakan dalam
penelitian ini karena peneliti memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi
dilapangan kemudian ditafsirkan dan diberi makna sesuai apa adanya.
C.
Teknik
Pengumpulan Data
1.
Observasi, yaitu metode pengumpulan data
di mana penulis mengamati langsung keadaan perusahaan dengan segala aspek
kegiatan yang berkaitan dengan penulisan
2.
Wawancara, yaitu dengan mengadakan
wawancara terhadap pejabat yang berwenang untuk memberikan keterangan yang
berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.
3.
Penelitian Kepustakaan, adalah dengan
cara mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai sumber dan mempelajari literatur-literatur,
termasuk di dalamnya adalah bahan-bahan kuliah yang penulis telah ikuti selama
ini yang berkaitan dengan topic pembahasan penelitian untuk mendapatkan dasar teoretis.
D.
Teknik
Analisis Data
Dalam
penelitian ini teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai subjek penelitian berdasarkan
data yang diperoleh dari variabel
yang diperoleh dari kelompok subjek
yang diteliti
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
A.
Gambaran
Umum PT. Adira Cabang Bone
PT.
Adira adalah salah satu lembaga pembiayaan yang memberikan pinjaman dana tunai
dengan menggunakan jaminan BPKB (motor dan mobil). Adapun motto dari PT.Adira
adalah “proses cepat AMAN dan MUDAH.
PT.
Adira pertama kali berdiri di Kabupaten Bone pada tahun 2004 yang saat itu
masih cabang dari Adira Makassar. Pada tahun 2010 tepatnya bulan Desember PT.
Adira resmi menjadi Adira Cabang Bone, hal ini dikarenakan semakin
berkembangnya dan banyaknya respon dari masyarakat sehingga pimpinan
berinisiatif menjadikan Adira Menjadi Cabang di kabupaten Bone.
PT.
Adira Cabang Bone beralamat di Jl. MT. Haryono. Saat ini memiliki karyawan
sebanyak 86 orang. Selain roda dua dan roda empat, Adira juga memfasilitasi
kendaraan roda 10. Ada beberapa keunggulan yang ditawarkan oleh pihak Adira
kepada nasabah yang ingin mengajukan pinjaman, diantaranya:
-
Kendaraan di asuransikan
-
BPKB jaminan terjamin Aman dan tidak
digadaikan di Bank
-
Pencairan Tunai
-
Gratis Kart ACM (Adira Club Member)
-
Proses cepat (Instant approval)
-
Bunga rendah
Beberapa
persyaratan yang ditujukan kepada nasabah jika ingin menhajukan kredit kepada
Adira, diantaranya yaitu:
a) Foto
copy KTP suami/Istri
b) Foto
copy karti keluarga
c) Bukti
kepemilikan rumah (Rek. Listrik/PBB)
d) Materai
Rp. 6000 (3 lbr)
e) Foto
copy STNK
f) Gesekan
nomor rangka nomor mesin.
Struktur
organisasi PT.Adira Cabang Bone adalah
|
Brand Manager
Muhammad
Bakhri
|
|
Deputi Brand Manager
Samuel Manuntun
|
|
Deputi
Brand Manager
Supardi. ST
|
|
Divisi Collection
|
|
Divisi marketing
|
|
Divisi Kredit
|
|
Divisi Operation
|
|
Divisi
HRD
|
B.
Peran
Analisis Kredit Terhadap Efektivitas Pemberian Kredit pada PT. Adira Cabang
Bone.
Analisis
kredit memiliki peran sangat besar bagi perusahaan, karena hal ini akan
meminimalisir terjadinya resiko kemacetan kredit. Adapun analisis yang
digunakan pada PT.Adira adalah analisis 5C. Analisis yang dimaksud yaitu,
sebagaimana telah dijelaskan oleh Irham
Fahmi dalam bukunya Pengantar Manajemen Keuangan Teori dan Soal Jawab.
a)
Character
(Karakteristik), ini menyangkut dengan sisi psikologis calon penerima kredit
itu sendiri, yaitu karakteristik atau sifat yang dimilikinya, seperti latar
belakang, hobi, cara hidup yang dijalani, kebiasaan- kebiasaannya.
b)
Capacity
(Kemampuan), adalah menyangkut dengan “business record” atau kemampuan seorang
pebisnis mengelola usahnya , terutama pada masa-masa sulit sehingga nanti akan
terlihat “ability to pay” atau
kemampuan membayar.
c)
Capital
(Modal),
ini menyangkut dengan kemampuan modal yang dimiliki oleh seseorang pada saat ia
melaksanakan bisnisnya tersebut.
d)
Collateral
(Jaminan),
adalah barang atau sesuatu yang dapat dijadikan jaminan pada saat seseorang
akan melakukan peminjaman dana dalam bentuk kredit ke sebuah perbankan atau
lembaga keuangan lainnya atau leasing. Untuk jenis ini dapat berupa mulai dari land (tanah), building (bangunan), automotive
(mobil, motor) atau juga pesawat, helicopter juga bisa dijadikan jaminan,
dan juga barang lainnya yang kira-kira dapat disetujui oleh pihak analisis
kredit.
e)
Condition
of economy (kondisi perekonomian), kondisi
perekonomian yang telah berlangsung disuatu Negara seperti tingkat pertumbuhan
ekonomi yang tengah terjadi, angka inflasi, jumlah pengangguran, purchasing power parity (daya beli)
penerapan kebijakan moneter sekarang dan yang akan dating, dan iklim usaha
yaitu regulasi pemerintah, serta situasi nekonomi internasional yang tengah
berkembang adalah bagian penting untuk dianalisa dan dijadikan bahan
pertimbangan .
Langkah-
langkah yang dilakukan dari pihak Adira agar pemberian kredit lebih efefktif
dan terhindar dari kredit macet, yaitu:
1. Pembekalan
atau pelatihan kepada karyawan, terkait dengan
pemberian kredit dan mekanisme penagihan.
2. Melakukan
analisis survey yaitu mengunjungi langsung tempat nasbah yang mengajukan
permohonan pinjaman.
Kebijakan
yang dilakukan oleh pihak Adira jika terjadi wan prestasi yaitu, memerintahkan
kepada collector atau konsultan untuk melakukan survey kepada nasabah yang
bermasalah, dan jika nasabah tersebut masuk dalam kategori kredit macet, maka
pihak perusahaan akan menahan barang jaminan nasabah sampai nasabah tersebut
melunasi tunggakannya. Kebijakan lain yang diambil adalah dengan menggunakan 2
cara, yaitu:
-
Resceduling adalah perubahan tanggal
jatuh tempo, dengan tambahan biaya administrasi berdasarkan perjanjian.
-
Restructure adalah perpanjangan waktu
angsuran.
Evektivitas
Pemberian Kredit
Sebelum perusahaan menyetujui permintaan
kredit dari calon debitur, ada beberapa syarat yang harus mampu dipenuhi oleh
calon debitur tersebut. Diantaranya factor 5C. yaitu Collateral,
Characteristic, Capacity, Capital, dan Condition of Economy. Dengan
memperhatikan kelima aspek tersebut, perusahaan dapat memperkirakan apakah
debitur tersebut layak atau tidak untuk diberikan kredit. Pertimbangan
persetujuan kredit juga dapat dengan melihat laporan keuangan dari calon
debitur. Indicator yang kemudian dapat menentukan bahwa pemberian kredit
efektif atau tidaknya adalah dengan indikator LDR (Loan to Deposit Ratio) dan
NPL (Non Performing Loan). LDR adalah besarnya seluruh volume kredit yang
disalurkan oleh perusahaan dibandingkan dengan penerimaan dana yang diterima
oleh perusahaan dari berbagai sumber. Sedangkan sebaliknya NPL adalah kata lain
dari kredit macet. Yaitu besarnya jumlah kredit yang bermasalah dibandingkan
dengan keseluruhan jumlah kredit yang disalurkan.
Keuntungan yang paling memberikan
konstribusi terbesar pada Perusahaan PT.Adira adalah peminjaman dengan jaminan
BPKB Mobil disbanding dengan jaminan BPKB motor.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka penulis menarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Analisis
kredit yang dilakukan oleh PT. Adira sudah cukup baik, karena menggunakan
analisis yang berlaku Umum, yaitu analisis 5C,
-
Character
(Karakteristik), ini menyangkut dengan sisi psikologis calon penerima kredit
itu sendiri, yaitu karakteristik atau sifat yang dimilikinya, seperti latar
belakang, hobi, cara hidup yang dijalani, kebiasaan- kebiasaannya.
-
Capacity
(Kemampuan), adalah menyangkut dengan “business record” atau kemampuan seorang
pebisnis mengelola usahnya , terutama pada masa-masa sulit sehingga nanti akan
terlihat “ability to pay” atau
kemampuan membayar.
-
Capital
(Modal),
ini menyangkut dengan kemampuan modal yang dimiliki oleh seseorang pada saat ia
melaksanakan bisnisnya tersebut.
-
Collateral
(Jaminan),
adalah barang atau sesuatu yang dapat dijadikan jaminan pada saat seseorang
akan melakukan peminjaman dana dalam bentuk kredit ke sebuah perbankan atau
lembaga keuangan lainnya atau leasing.
-
Condition
of economy (kondisi perekonomian), Kondisi ekonomi
yang dilihat oleh perusahaan adalah kondisi ekonomi calon debitur itu sendiri
serta kondisi ekonomi global.
2.
Proses pemberian kredit pada PT. Adira sudah
memenuhi persyaratan perkreditan yang berlaku. Keefektifan pemberian kredit ini
juga dapat dilihat dari minimnya kredit macet yang terajdi. Hal ini dikarenakan
para collector yang bertugas tidak hanya berfungsi sebagai penagih saja tetapi
juga berfungsi sebagai konsultan..
B.
Saran
Setelah melakukan penelitian dan
pembahasan hasil penelitian, maka penulis ingin memberikan beberapa saran
terkait dengan kegiatan perkreditan yang sekiranya mungkin dapat dijadikan
bahan pertimbangan bagi kelangsungan kegiatan perkreditan ke depannya agar
lebih baik, yaitu :
1.
Untuk calon debitur yang menginginkan
kredit dalam jumlah besar, sebaiknya PT.
Adira tidak hanya menggunakan analis 5C tetapi juga menggunakan analisis 7P dan
analisis studi kelayakan.
2.
Agar lebih tercipta efektivitas
pemberian kredit dan meminimalisir penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh
debitur, maka sebaiknya pengawasan kredit disamping secara tidak langsung, juga
dilakukan pengawasan secara langsung.
DAFTAR
PUSTAKA
Alexandri, Moh
Beni, Manajemen Keuangan Bisnis teori dan
social, Cet.1; Bandung : Alfabeta, 2009
Atmaja, Lukas
Setia, Teori dan Praktik Manajemen
Keuangan, Ed.1 [t.Cet] ; Yogyakarta: Andi, [t.th]
Darmawi, Herman,
Manajemen Perbankan, Cet.2; Jakarta:
Bumi Aksara, 2012
Fahmi, Irham, Manajemen Risiko teori, kasus dan solusi, Cet.
2; Bandung: Alfabeta, 2011
Fahmi, Irham, Pengantar Manajemen Keuangan Teori dan Soal
Jawab, Cet. 2 : Bandung; Alfabeta, 2013
Firdaus, Rachmat
dan maya Ariyanti, Manajemen Perkreditan
Bank Umum teori, masalah, kebijakan dan aplikasinya lengkap dengan analisis
kredit, Cet.5; Bandung: Alfabeta, 2011
Hadjar, Ibnu, Dasar-Dasar Metodologi penelitianKwantitatif
Dalam Pendidikan, [t.Cet; Jakarta: Rajawali Pers, [t.th]
Harahap, Sofyan
Syafri, Analilis Kritis atas Laporan
Keuangan, Ed. 3 Cet.10; Jakarta:
Rajagrapindo Persada, 2011
Idrus, Muhammad,
Manajemen Keuangan 2, Ed. 1 Cet. 2; Bone: STIE YAPI Bone, 2014
Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, Ed. 1, Cet.
6; Depok: RajaGrapindo Persada, 2013
Sukmadinata,
Nana Syaodih, Metode Penelitian
Pendidikan, Cet.1; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005
Tampubolon,
Manahan P, Manajemen Keuangan (Finance
Management) konseptual, problem & studi kasus, Ed. 1 Cet. 1; Bogor:
Ghalia Indonesia, 2005
Tjoekam, H, Moh, , Perkreditan
Bisnis Inti Bank Komersial. [t.Cet] ; Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,
1999
[1] Irham Fahmi, Manajemen Risiko teori, kasus dan solusi, (Cet.
2; Bandung: Alfabeta, 2011), h. 24
[2] H, Moh,
Tjoekam, Perkreditan Bisnis Inti Bank Komersial. ( [t.Cet] ; Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 3
[3]Rachmat Firdaus dan maya
Ariyanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum
teori, masalah, kebijakan dan aplikasinya lengkap dengan analisis kredit, (Cet.5;
Bandung: Alfabeta, 2011), h. 7
[4] Moh Beni Alexandri, Manajemen Keuangan Bisnis teori dan social, (Cet.1;
Bandung : Alfabeta, 2009), h. 121
[5] Manahan P, Tampubolon, Manajemen Keuangan (Finance Management)
konseptual, problem & studi kasus, Ed. 1 (Cet. 1; Bogor: Ghalia
Indonesia, 2005), h. 79-80
[6] Muhammad Idrus, Manajemen Keuangan 2, Ed. 1 ( Cet. 2;
Bone: STIE YAPI Bone, 2014), h. 35
[7] Lukas Setia Atmaja, Teori dan Praktik Manajemen Keuangan, Ed.1
([t.Cet] ; Yogyakarta: Andi, [t.th]), h. 398-399
[8] Sofyan Syafri harahap, Analilis
Kritis atas Laporan Keuangan, Ed. 3 (Cet.10;
Jakarta: Rajagrapindo Persada, 2011), h. 207
[10]Herman Darmawi, Manajemen Perbankan, (Cet.2; Jakarta:
Bumi Aksara, 2012), 104-105
[11] Muhammad Idrus, Manajemen keuangan 1, Ed.1 (Cet.1;
Bone: STIE YAPI BONE, 2014), h. 24
[12] Herman Darmawi, Op. Cit, h. 107
[13] Irham Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan Teori dan Soal
Jawab, (Cet. 2 : Bandung; Alfabeta, 2013), h. 147-150.
[14] Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, Ed. 1, (Cet. 6; Depok: RajaGrapindo
Persada, 2013), h. 289-291


Komentar
Posting Komentar